Review Buku TITIK NOL : Makna Sebuah Perjalanan





Judul : Titik Nol
Penulis : Agustinus Wibowo
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta
Tebal : 552 halaman

Titik Nol merupakan buku tentang kisah perjalanan penulis menyusuri tempat – tempat di belahan bumi sana, menembus batas wilayah dan negara, meninggalkan tawaran untuk meningkatkan ‘standar’ hidup dengan mengantongi gelar sebagai lulusan dari salah satu perguruan tinggi terbaik di China.

Pernah memikirkan apa bedanya turis dan traveler ?
Apa yang kalian bayangkan mendengar kata traveling ?
Mengunjungi tempat – tempat indah ? atau menengok peradaban di pedalaman sana yang dianggap eksotis ? atau bahkan berfoto ria dengan latar belakang yang bagus sambil menenteng kamera kemana – mana ?
Kalau iya, berarti kita sama. Hehehe...
Persis yang aku bayangkan. Traveling adalah keliling dunia, mengunjungi tempat – tempat baru untuk menambah pengalaman atau sekedar untuk mengisi feed instagram ?

Mengutip dari buku Titik Nol, kira – kira begini perbedaan turis dengan traveler. Turis menggeret koper sedangkan traveler hanya membawa ransel. Turis menginap di hotel dan traveler tinggal dengan warga setempat. Turis mengunjungi tempat untuk mengabadikan moment lewat lensa kamera sedangkan traveler mencari makna dari setiap perjalanannya.

Penulis lewat buku ini menyadari benar bahwa sebuah perjalanan bukan tentang memamerkan piala kebanggan karna telah berhasil menjejakkan kaki dimana – mana, menjadi orang pertama yang “menemukan” sebuah tempat, lalu berkoar – koar mengatakan “aku sudah kesini, aku sudah kesana”. Dulu mungkin bagi penulis sama seperti kita yang akan bersuka cita menyaksikan pemandangan penduduk suatu wilayah yang begitu primitif, dengan tradisi yang begitu murni dan tidak terdegradasi dengan televisi, McDonald atau musik pop. Sungguh nyentrik, unik dan menarik untuk dipotret. Tapi setelah perjalanan panjang, penulis menyadari bahwa “eksotisme” menjadi kata yang absurd. Mereka bukan kebanggaan, mereka bukan objek, bukan target kemenangan. Dipedalaman sana, mereka adalah manusia yang sama dengan kita. Yang punya mimpi dan cita – cita. Berjuang sekaligus menantikan kebangkitan dari kubangan kemelaratan. Kita tertawa untuk hal – hal yang sama. Menangis untuk hal – hal yang sama.

Setelah membaca buku ini, aku juga mulai menyadari bahwa belajar mengelola hati, mencari makna kehidupan tidak cukup hanya dari teori dalam buku. Lebih dari itu, berani untuk turun, berbaur langsung dengan alam dan masyarakat adalah sebuah keharusan.

Seperti yang penulis paparkan dalam buku ini, banyak sekali pelajaran yang bisa didapat dari perjalanan panjangnya ini.

Sebut saja ketika penulis mengunjungi Kashmir, daerah bagian dari Pakistan Utara yang luluh lantah akibat hantaman gempa 7.8 SR di tahun 2005. Kashmir yang luluh lantah dan rata dengan tanah. Masihkah ada harapan bagi penduduknya ? surga musnah berubah menjadi neraka yang dilumat malapetaka beruntun : gempa, hujan, longsor. Kashmir babak belur, terisolasi berkat konflik India - Pakistan yang meletus begitu saja. ditengan kehancuran ini, masyarakat berusaha untuk bangkit. Namun kemudian penulis kembali ditampar saat melihat realita bagaimana mereka berusaha untuk menjamu saudara Indonesianya dengan ramah dan sebaik – baiknya. Mereka persembahkan yang terbaik yang masih tersisa sedangkan kita sebagai saudara yang dianggap bisa membantu malah kadang masih berfikir untuk memberikan bantuan bagi saudara – saudara yang terkena musibah. Atau bahkan seringnya menyumbang barang – barang bekas ? astagfirullah. Semoga Allah lebih lembutkan hati kita.

Pernah juga penulis berkunjung ke Tharparkar yang disebut sebagai  the great Indian Desert. Daerah yang sudah 4 tahun tidak disambangi hujan. Dengan suhu diatas lima puluh derajat celcius. Ditempat ini air menjadi lebih berharga dari sebongkah emas. Penduduknya berjalan berpuluh kilometer mencari air menyusuri gurun yang luar biasa panas dengan bertelanjang kaki. Sungguh ironi dengan keadaan kita yang hidup di negara kepulauan yang airnya masih berlimpah.

Diatas adalah salah dua dari puluhan tempat yang kunjungi penulis. Sangat merekomendasikan buku ini ke teman – teman yang belum baca. Banyak sekali pelajaran hidup yang akan diperoleh dari pengalaman penulis melakukan perjalanan panjang ini.

selamat membaca...


Komentar

Postingan Populer