Welcome to Maumere

 "kriiiiing"

lagi asyik cuddling sama pasangan tiba - tiba dapat telpon dari sahabat jauh.

"selamat mutasi ceee, tapi jauh, Maumere."

"oh ya? saya tutup dulu ya telponnya."

berasa disambar petir, air mata udah mau terjun bebas, tapi reaksi pasangan yang super tenang malah buat jadi lega. hal ini memang sudah kami bicarakan jauh sebelumnya, kami sudah membuat komitmen dan perencaan. tapi ketika itu benar - benar terjadi rasanya tetap saja berat.

Masalah tempat dimana, beban kerja nantinya akan seperti apa, jauh dari rumah dan sebagainya sebenarnya bukan masalah yang terlalu berarti. tapi berpisah dengan pasangan adalah hal yang lain. tapi sekali lagi, reaksi tenang pasangan dengan selalu melihat ini sebagai sesuatu yang positif bagi perkembangan mental kami berdua, membuat kekalutan yang saya emban menjadi sedikit berkurang. well, kalau sudah terjadi, hal yang bisa dilakukan hanyalah menerima apa yang sudah Tuhan takdirkan bagi hidup kami. tidak ada pilihan lain. 

dua minggu sejak pengumuman, kami sudah harus berangkat ke Maumere. Mengemban tugas negara, yang bagi saya sendiri lebih ke cara untuk mempertahankan hidup. perjalanan kami menuju Maumere luyaman melelahkan karena mengharuskan kami transit di dua bandara. tidak ada direct flight ke Maumere dari daerah asal kami. tapi bersyukur karena kami tidak harus melakukan perjalanan darat. kesan pertama begitu kami menginjakkan kaki pertama kali di Bandara Frans Seda adalah panas. Wajar sebenarnya karena mngetahui kota Maumere berada di pesisir pantai.

Secara tata kota, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kota asal kami. bukan kota besar yang menyediakan berbagai macam fasilitas. walaupun secara kasat mata, gedung gedung pemerintahan di Kota ini masih kebanyakan bangunan lama. untuk pertama kalinya kami berada ditempat dimana kami menjadi minoritas. kami tidak lagi bisa mendengarkan adzan berkumandang lima kali sehari seperti ditempat asal kami karena mayoritas penduduk di Maumere beragama katolik. tapi satu hal yang kami salahpahami, kesan pertama kami dengan penduduk lokal di kota ini adalah keras, tapi ternyata setelah banyak mengobrol dan berinteraksi kami bisa merasakan keramahan dan kehangatan mereka. orang - orang yang sebelumnya kami tidak kenal sangat murah hati untuk mengulurkan bantuan. bahkan, kota Maumere terkesan sangat aman. Hanya saja yang menjadi kendala sampai ini adalah suasana kota yang sangat panas membuat kami enggan keluar untuk berjalan - jalan. padahal sudah bukan rahasia, banyak sekali tempat - tempat mengagumkan yang harus kami kunjungi. kendala kedua adalah makanan. lidah super pemilih yang saya miliki saat ini belum cocok dengan masakan - masakan di Maumere. Well, ini hanya masalah selera. tapi cukup menguatkan motivasi untuk mulai belajar memasak.

ini hanya kesan dari orang yang baru seminggu tinggal di Kota ini. saya berharap ada kejutan - kejutan lain yang menanti. 

Komentar

Postingan Populer