Memaknai 2019



Halloo, Nuzlah is back yeay.
Niatnya sih mau ngilang agak lama, need time to fix my ‘keruwut’ heart hehe. Meditasi dikamar sembari memikirkan bagaimana menemukan kebahagiaan dalam diri sendiri. hadu, IQ jongkok aja mikirnya dalam banget yak haha.

Jadi begini, one of my bestie menyarankan aku untuk menulis sesuatu tentang bagaimana memaknai hidup. Makna bagaimana? Padahal dia tau, temannya ini paling banyak menghabiskan waktu hanya dengan kegiatan suci bernama tidur.

Tapi tidak ada salahnya dicoba.

Oke, 2019 ku berakhir. Ini masih bulan september but i think my 2019 is end. *baubaunyagalaunih hahaha..

Tahun ini berkah.
Rejeki awal tahun alhamdulillah dapat kabar penempatan bisa homebase. doa ibu ga terkalahkan memang. Jiwa rantauku tinggi banget, jujur keinginan terdalam pengennya dapat penempatan di Kota Malang. Begini, aku punya quotes bagus banget “Kamu akan dibuat menangis terharu kala memahami apa yang digariskan untukmu”. Dan ini bener banget. Jangan pernah ragu sama jalan yang digariskan sama Allah.
Sangat sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan orang orang luar biasa baik ini. Aku yang memang pada dasarnya gengsi banget ngungkapin perasaan ke orang, lewat tulisan ini aku pengen kalian tau, gimana bersyukurnya seorang Nuzlah dipertemukan dengan kalian. Namanya gausah disebut satu – satu ya, insyaaAllah next project eaaak.
Aku mungkin ga akan bisa jadi sebaik kalian, tapi tetap punya cita – cita jadi orang baik haha. Aamiin.
Sekali lagi terima kasih.

2019,
Cukup berat. Empat dari teman baikku kena musibah. Dikasi cobaan tentang kesehatan orang tuanya. Sempat parno banget sampe sampe pernah ga pulang ke rumah saking takutnya. Jujur, apapun mengenai orang tua aku susah banget buat terbuka ke siapapun, akhirnya kebeban sendiri. sampai akhirnya aku sadar. Apa gunanya main kabur dari rumah? Lari dari masalah ga akan nyelesaiin apapun. Bersyukur, selagi sempat. Allah kasi kamu kesempatan buat berbakti ke orang tua lebih banyak dari teman – temanmu.
Sekarang aku jadi mikir. Oh ini cara Allah negur hambanya. Bersyukur karna Allah masih ingetin lewat hambanya yang lain.
Bukan Cuma aku, ini untuk kita semua.

“kapan terakhir kali kita berdoa untuk kedua orang tua?”
“kapan terakhir kali kita benar benar tulus berdoa untuk sahabat-sahabat kita?”
“kapan terakhir kali kita doakan guru – guru kita, pembimbing, senior, dan semua orang – orang yang pernah ngasi kita begitu banyak pelajaran hidup?”

Entah kenapa, tahun ini aku merasa jadi orang yang begitu egois. Seolah olah dunia ini hanya sebatas tentang aku.

“aku ingin D4, aku ingin punya pacar, aku ingin jadi AR, aku ingin kuliah ke luar negeri, aku ingin beli ini, aku ingin punya itu......”
Usiamu 23. Harusnya kamu malu. Think deeper!

2019
Indah.
pertama kali si egois ini berani menjatuhkan hati ke laki – laki tanpa pamrih
sama sekali tidak mengharapkan perasaan berbalas.
Banyak hati yang akhirnya kembali tanpa jawaban,
Suatu kebodohan? Percuma. Si keras kepala ini tidak mudah diubah keyakinannya.

Pertama kali si manja ini biarkan bahunya dijadikan sandaran laki – laki
Dan naifnya aku berpikir, dia mempercayakan hidupnya untukku
Pertama kali si tukang tidur ini merasa ada yang lebih menyenangkan dari tidur
Sejak kapan mengobrol berjam – jam dengan seseorang menjadi sedemikian membahagiakan. Hal – hal tidak penting menyangkut si lelaki ini selalu menyenangkan. Oo begini rasanya ‘pacaran’ orang dewasa.
Pertama kali si kaku ini membiarkan ‘lelaki’ menggenggam tangannya, memeluknya.
Benar – benar untuk pertama kalinya.
Aku terbiasa hidup hanya untuk hari ini saja, tapi bersamamu aku mulai berpikir bagaimana menjalani hidup dikemudian hari.
Masa depanku, si lelaki ini.

Egoisku muncul. Ikhlasku dipertanyakan.
Aku mulai mengharapkan dirimu, seutuhnya. Benar – benar tidak berbagi.
Aku pikir kamu sudah jadi milikku.
Aku pikir aku satu – satunya orang yang mengharapkan kamu,
aku lupa,
ada orang lain yang menginginkanmu sama besarnya dengan bagaimana aku menginginkanmu
aku pikir aku orang yang paling mencintaimu
aku sadar,
dia mencintamu sama besarnya denganku, mungkin lebih.
Tak apa, selagi kamu mampu menetapkan letak hatimu. Aku atau dia.

Dan aku adalah satu – satunya pihak yang berpikir kalau aku adalah pemilik hatimu.
Nyatanya? Kamu bersikap seolah olah aku hanya “penggemar-nomor-satumu” didepannya.
Memalukan.
Kamu adalah pihak yang bersikeras kalau hubungan ini tiada berkesudahan,
Yang akhirnya kamu malah menjadi pihak yang pertama kali memutuskan untuk menyudahi.

udah

Tidak ada niat sama sekali menyalahi. Apalagi menagih janji.
Memang begini yang terbaik.
Salahku hanya satu. Terlalu mencintaimu,
Sampai akhirnya,

Aku. Kamu. Dia . kita semua tersakiti dengan cara yang berbeda.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer