Tentang Menulis
Selamat berakhir pekan..
Aku minggu ini ga bakal ngulas buku dulu ya hehe. Bukan karna
lagi libur baca sih cuma emang seminggu ini lagi menyelesaikan buku bukunya Boy
Candra. Now reading sih Sebuah Usaha
Melupakan. Ngga, ga lagi galau kok cuma emang lagi butuh bacaan – bacaan yang
mungkin bisa mengembalikan sisi – sisi romantis seorang Nuzlah aja eaaaak. Pengen
nulis puisi nih, demi kesejahteraan second account instagramku. Jadi jarang
post karna bingung captionnya. Aku kan bukan yang jago banget motret motret
ngambil gambar bagus gitu, jadi ya pengennya captionnya agak agak indie gitulah
ya. Itung – itung menjadi wadah penampungan puisi uwe lah ya hahaha.. oh iya
jadi second accountku ini dulunya adalah fake account yang kupake untuk
melakukan tugas negara, semacam intelegen gitu hahaha. Maksudnya ngepoin si doi
dan turunannya wkwkwk. Sudah tobat, tapi tetep aja sekarang isinya masih
seputar ungkapan perasaan buat doi ya haha. Bucin belum pensiun. Hehe.
Jadi kepikiranlah hari ini membahas arti menulis bagi
seorang Nuzlah.
Aku sebenernya gatau juga ya kapan mulai nulis ini. Tapi ingetnya
aku dari SD emang udah rajin banget nulis buku harian. Gila juga ga sih aku
nulis apaan sih dulu. Pasti tiap jengkel ke temen nulisnya ke buku harian ya.
Astagfirullah, karir perghibahanku memang sudah muncul sejak kanak – kanak ya.
Awalnya banget, nulis itu bagiku adalah memori. Apapun yang
aku alami selalu aku tulis. Kenangan terlalu berharga untuk dilupakan gitu aja.
Kenapa menulis ? karna bukan orang yang terlalu suka ikut – ikut berselfie ria
rame – rame gitu. Aku mengenang sesuatu dari sudut pandangku sendiri dan itu
bisa aku tuangkan hanya lewat sebuah tulisan. Tau ga, dalam menulis buku harian
aku ga sembarangan. Ada aturan sendiri yang aku buat untuk aku ikuti sendiri.
memang diriku ini keras banget ya kalo menyangkut prinsip, sampai heran
sendiri. aturan pertama, hanya ada satu nama ‘cowok’ dalam buku harianku. Cowok
ya, bukan temen cowok. Bisa dibedakan kan? Aku hati – hati banget buat nulis
tentang cowok. Kenapa ? karna ketika aku sudah memutuskan untuk menulis tentang
cowok, berarti dia orang yang berarti. Dan besar kemungkinan dia akan menjadi
tokoh utama dan mendominasi isi buku harianku. Begitupun ketika aku memutuskan
untuk berhenti menulis nama cowok, aku hati – hati banget. Karna memutuskan
untuk berhenti menulisnya berarti menutup seluruh jalan untuk kembali. Serem ya,
tapi aku memang sekeras itu masalah prinsip. Aturan ke dua, sebisa mungkin
tulis kenangan yang baik. Kalau aku masih bisa menahan diri untuk ga nulis yang
negatif tentang orang lain, aku ga akan tulis. Atau cukup aku tulis di lembaran
kertas yang sewaktu – waktu bisa aku aku buang. Hanya untuk mengeluarkan emosi
negatifku aja. Aku pengen, selama sisa hidupku yang aku kenang tentang orang
adalah dari sisi baiknya. Biar kenangan yang ga baik dibakar habis sama waktu
aja.
Kedua, menulis bagiku adalah healing. Seperti yang sebelumnya aku bilang emosi negatif harus
dikeluarkan. Jangan sampai menjadi racun bagi tubuh kita sendiri. pun begitu,
mengeluarkan emosi negatif tersebut harus dengan cara – cara yang tepat. Bukan menjadikan
alasan ini untuk membenarkan tindakan marah membabi buta yang akhirnya
merugikan diri dan orang lain. ada banyak cara melepas emosi ini. Salah satu
yang paling instan bagiku adalah cerita ke sahabat dekatku (dan memang masih
dan akan selalu aku lakukan). Tapi tau kan ? ga semua masalah bisa kamu
ceitakan ke orang. Bukan, bukan karna ga percaya. Tapi memang pada dasarnya
semua punya satu kamar kosong sendiri dalam dirinya yang memungkinkan akses
bagi dirinya saja. terlebih bagi seorang Nuzlah yang level gengsinya diatas
rata – rata. Aku sering banget merasa kalau orang ga perlu tau kalau aku lagi
sedih. Aku tetep cerita ke sahabat tapi sudut pandangku tentang masalah yang
paling orisinil tanpa intervensi dari sudut pandang orang lain adalah dari
tulisanku, buku harianku.
Dan sampai akhirnya menulis bagiku adalah aku. bagian dari
diriku. Mungkin pernah kalian mengalami hidup kosong tanpa tujuan? Aku pernah. Selepas
kuliah dan mulai bekerja. Rasanya aku sudah sampai ke ketujuanku. Karna dari
dulu yang kukejar memang itu, lulus kuliah dengan IPK bla bla bla, dapat kerja
di bla bla bla. Puji syukur, semua yang dulu kutulis sudah aku capai. Tapi terus
apa ? aku malah bingung sendiri. tujuanku sudah tercapai, tapi hidupku masih
harus tetap berjalan. Bukan tipe orang yang bisa berjalan terlunta – lunta tanpa
tujuan. Sampai akhirnya aku menemukan kalau menulis bagiku bukan hanya hobi
tapi tujuanku. Dan disinilah aku sekarang menulis sembari mencari mimpi dan tujuan lain yang ingin aku capai. Karna aku
tidak ingin mati tanpa meninggalkan jejak. Aku tidak bisa hanya tinggal dalam
kenangan orang. Karna hati dan ingatan orang lain itu rentan akan lupa. Karnanya
aku ingin dikenang lewat jejak pena yang pernah aku toreh.


Komentar
Posting Komentar