Review Bulu KALA : Kita Adalah Sepasang Luka yang Saling Melupa




KALA : Kita Adalah Sepasang Luka yang Saling Melupa

Penulis : Stefani Bella dan Syahid Muhammad
Penerbit : Gradien Mediatama
Tebal : 347 Halaman

Awal banget, dari judulnya aku bisa tebak kalau buku ini adalah buku tentang patah hati hehe. Thats why aku akhirnya memasukkannya ke keranjang belanjaan. FYI nih, ini buku aku beli di Denpasar sehari setelah diklat. Hari terakhir di Bali yang justru aku pakai untuk memanggil kenangan – kenangan yang aku tau betul akan menggoreskan luka. Aku sibuk mengunjungi tempat – tempat yang sebelumnya aku kunjungi bersama seseorang. Menyusuri jalanan yang sebelumnya kami jejaki berdua. Serasa setiap sudut kota Denpasar mengingatkanku pada kita. Segalau itu sampai akhirnya memutuskan membaca buku segalau ini hahaha. Dasar aku. hmm.

Baiklah.

Jadi sesuai dugaan buku ini tentang sebuah kehilangan. Perihal meninggalkan dan ditinggalkan. Buku ini menceritakan tentang dua tokohnya, Saka dan Lara yang dipertemukan dalam sebuah acara suatu perkumpulan komunitas dimana masing – masing membawa luka dari masa lalunya. Kisah cinta klasik. Biasa saja. karna memang pada dasarnya menurutku kisah cinta itu memang klasik. Tentang saling jatuh, keputusan untuk saling berjuang, saling memahami sampai pertengkaran - pertengkaran yang tidak mungkin untuk dihindari. Yang membuat spesial dari buku ini adalah karna buku ini bercerita dari dua sudut pandang sekaligus. Dari sudut pandang Saka dan Lara. Ditambah dengan pemilihan diksi yang tingkat dewa, benar – benar mampu membangkitan sisi romantis bahkan bagi orang yang mengaku mati rasa. Kita dipaksa untuk kembali memikirkan tentang keputusan – keputusan yang sebelumnya pernah kita ambil. Bagaimana kesemua keputusan kita begitu berpengaruh bagi orang lain. lebih – lebih bagi seseorang yang sebelumnya garis hidupnya penah bersinggungan dengan kita.

Ada sebuah puisi Lara yang menjadi bagian favoritku dibuku ini.

Selamat Datang Perpisahan

Ada yang tengah menanggung duka hingga lupa seperti apa rupa suka
Ada yang mengaku terluka namun sebetulnya menyematkan luka

Mengagung – agungkan diri sebaga satu – satunya korban
Menuding yang lain sebagai satu-satunya pelaku
Masing – masing kita adalah korban dan pelaku
Namun, lupa untuk mau mengaku, bukan sebab apa, tapi memang adanya demikian

Kenapa katamu ?
Jelas saja, seseorang yak ingin betul – betul disebut sebagai pelaku bila harus menanggung duka
Mana ada pelaku yang terluka, katanya

Tapi, seseorang itu dengan terang – terangan bersedia disebut korban
Kenapa lagi katamu ?
Sebab katanya, yang paling terluka adalah yang paling tersakiti dan tidak layak dipersalahkan

Jadi, siapa yang benar dan siapa yang salah ?
Tak ada, sebab memang korban dan pelaku hanya ada dipikiranmu
Ebab, keduanya adalah tokoh rekaan yang hadir sebab enigma kita pada dunia

Keduanya maya,tak benar – benar ada
Karena, pada nyata yang terlihat nisbi
Semuanya adalah persona yang memiliki rasa dan selalu bisa menaruh luka
Pada siapapun, pada hal apapun

Oleh karenanya, ucapkan saja selamat datang
Pada pertemuan yang sebenarnya adalah pintu bagi keterpisahan

Dari aku yang mengaku siap dengan perpisahan, padahal sebetulnya tidak

Tiba – tiba saja aku merasa sangat konyol setelah membaca buku ini. Sebagai pihak yang selalu ditinggalkan, jujur aku kadang tidak habis pikir bagaimana mungkin seseorang bisa dengan gampangnya memutuskan untuk menyudahi. Setelah semua yang diperjuangkan diatas mimpi – mimpi yang pernah dirajut bersama. Aku tidak pernah bisa menerima apapun alasan seseorang memilih pergi. Apapun. Bagaimana mungkin bisa secepat itu menghapus rasa ? bagaimana mungkin secepat itu bisa memulai kisah yang baru bersama hati yang lain ? sementara disini aku masih mengais rindu dalam setiap sujud panjang ku ? masih saja dengan lantang memanggil namamu in the most silent prayer.
Serasa alasan yang dibuatnya hanya sebuah pembenaran. Persetan, setelah semua janji yang diikrar. Aku begitu yakin kalau dalam kisah ini aku adalah korban. Dan dia adalah pelaku. Tanpa sebelumya aku sadari kalau hubungan ini melibatkan dua perasaan yang sebelumnya tidak pernah membayangkan kalau perpisahan akhirnya menjadi sebuah pilihan. Ada dua hati yang ikut koyak karna kealfaan untuk mempertahankan kita.  Harusnya aku lebih dewasa menyikapi luka. Maaf aku begitu menikmati luka dengan membencimu padahal tentu saja aku juga ikut berkontribusi atas luka yang mungkin juga kamu rasa.
Karna,
Kita adalah sepasang luka yang saling melupa

Komentar

Postingan Populer