Kata Maaf yang Terlampau Telat
Welcome April.
Aku berharap bulan baru membawa harapan baru. Tidak salah memang, masa depan selalu menjadi misteri yang sampai kapanpun takkan terpecah sampai kamu sampai padanya. Dan pada saat itu tentu saja sudah tidak lagi dikatakan masa depan. Harapan diawal tahun yang begitu menggebu dengan segudang mimpi serta harapan baru yang dipikul, siapa yang menyangka kita sekarang dalam kondisi sama sama bertahan melewati pandemi covid -19 yang melanda negeri. Untuk kita semua, untuk negeriku tercinta, lekaslah membaik.
Manusia sangat luput dari rasa syukur
Berkumpul dengan sahabat dan kerabat
Menjelajah kemana saja
Melakukan aktivitas secara normal dan bebas mungkin baru disadari merupakan nikmat luar biasa yang Tuhan titipkan.
Menghabiskan waktu sepanjang hari hanya berteman bayangan diri membuatku banyak sekali berpikir. Oh mungkin berpikir dan merenung menjadi satu satunya aktifitasku yang menguras energi.
Sedikit banyak kenapa rasanya sudut pandangku terjungkir balik seperti ini.
Di penghujung hari aku selalu mempertanyakan. Kenapa? Mengapa? Bagaimana bisa? Apa yang menyebabkan sesusah ini untuk melupa? Apa hebatnya? Untuk sebuah hubungan yang berumur tidak lebih dari waktu yang dibutuhkan bumi untuk berjalan pada orbitnya. Apa yang menjadikannya berbeda dengan hubungan yang sebelum sebelumnya pernah dijalani?
Aku berkali kali menulis tentangnya. Selalu saja sama. Tentang perasaan tidak terima ditinggalkan. Perasaan benci karna pada akhirnya dia memilih menyerah. Tidak terima komitmen yang menjadi tujuan dihempas begitu saja seakan tidak memiliki nilai sama sekali. Mengagung - agungkan harga diri yang tidak ingin diinjak oleh siapapun. Perasaan terkhianati melihatnya begitu cepat menggantiku disaat aku sendiri masih saja mengais - ngais sisa rindu di ujung sajadah. Mulai mempertanyakan mengapa Tuhan abai terhadap harap yang terus saja aku lantunkan lewat doa. Sampai dititik tidak lagi percaya kalau hati bisa disentuh dengan segala sesuatu yang dilakukan sepenuh hati.
Dan pada akhirnya aku sampai didetik ini, menulis pengakuan bahwa kenyataannya akulah yang terlampau pamrih. Apa harus sepamrih ini perihal mencintai? Pikirku hanya aku yang melibatkan hati. Hah memang lucu, kuanggap apa dia selama ini. Apa benar dia yang memilih untuk menyerah lebih dulu pada hubungan itu ? Pada kenyataan aku yang memaksa dia untuk melunakkan ego disaat aku sendiri menempatkan ego diatas segalanya. Melempar tanggung jawab atas kelanjutan hubungan ini padanya seorang tanpa ikut melibatkan diri hanya karna ambisi untuk menyelamatkan harga diri. Cih. Terlalu sombong, percaya diri sekali menggap ada ataupun tidaknya dia tidak akan membuat perbadaan. Nyatanya remuk redam yang enggan ditunjukan demi memuaskan emosi dangkal yang sebenarnya lebih mirip intuisi rimba memenangkan pertarungan rasa. Apa benar aku adalah pihak yang benar dan dia adalah pelaku yang patut dipersalahkan? Tidak tau diri salah, bukankah lebih pantas untuk dipersalahkan disini? Apa benar hanya aku yang terluka? Perasaan bersalah karna membuat orang lain terluka lah sebenarnya sumber dari luka.
Maaf yang terlampau telat
Maaf yang tiada lagi guna
Maaf yang tak ada kuasa lagi terhadap apapun yang terjadi
Namun tetap saja..
Maaf, untukmu setulus hati
Maaf, untukmu yang pernah kusalahkan dengan begitu kejam atas apa yang terjadi
Maaf, untukmu yang kupaksa mempertanggungjawabkan atas segala lukaku
Aku tak pernah baik baik saja tanpamu.


Komentar
Posting Komentar