Review Buku : Wirid Wanita Haidh






sudah hari ke 15 puasa, adakah ukhtiukhti yang puasanya masih full atau jangan jangan sudah lebih banyak bolongnya ? haha sama. Mungkin banyak juga ya diantara kita kadang diawal puasa berharap ada keajaiban tahun ini bisa puasa full dan begitu kedatangan tamu malah langsung kecewa karna merasa ‘merusak’ rencana – rencana ibadah yang sudah disusun rapi dari awal. Astagfirullah.

Pernah gak ada yang merasa ibadah jadi gak sempurna karna ini? Gak bisa puasa, sholat fardhu, tarawih, membaca Al-Qur’an (untuk yang ikut mazhab syafi’i), dhuha, tahajud. Padahal kan di bulan suci orang berlomba – lomba untuk lebih meningkatkan amalannya karena janji Allah untuk menaikkan berkali – kali lipat pahala.

Kalau kita masih merasakan hal hal diatas berarti kita masih memang kurang ilmu. Untuk itu, kali ini aku mau sharing ilmu dari buku Wirid Wanita Haidh yang ditulis oleh Abu Umar Abdillah. Pada saat mengalami haidh banyak diantara kita yang malas-malasan sehingga menyebabkan anjloknya iman. Krisis ruhiyah  ini terjadi karena minimnya pengetahuan kita terkait dengan ibadah hati. Padahal ibadah hati lebih luas cakupannya sebagaimana pernah dikatakan oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah,

sesungguhnya amal hati lebih agung dan lebih berat daripada amal jawarih (anggota badan).

Ibadah seringkali juga dimaknai sempit, sebatas ibadah – ibadah khusus. Inilah yang menyebabkan muslimah merasa kehabisan peluang untuk beribadah selama haidh. Padahal definisi ibadah itu luas. Sehingga memungkinkan bagi seorang muslimah untuk merealisasikan ibadah setiap waktu, dua puluh empat jam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mendefinisikan ibadah, “Yakni seluruh perkara yang dicintai Allah dan ridha-Nya, baik perkataan maupun perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin.” Ibadah tetap kontinyu meski muslimah dalam keadaan haidh, sehingga hubungan antara dirinya dengan Allah tidaklah putus karenanya, hatipun tetap hidup. Untuk menghindari matinya hati dikala haidh, diperlukan kita untuk sibuk dzikrullah (mengingat Allah). Tak ada dalil sharih yang melarang wanita haidh untuk berdzikir, menyebut asma Allah, memuji dan mengingatNya.

Amalan hati yang pertama kali dan paling dasar untuk dilakukan wanita haidh adalah MENGHADIRKAN KEIKHLASAN. Wanita haidh perlu untuk menyadari bahwa ketika dia meninggalkan puasa dan shalat ketika haidh, itu merupakan suatu bentuk melaksakan ketaatan kepada Allah sebaimana disebutkan dalam HR. Al-Bukhariy No 294 “sesungguhnya, itu adalah ketetapan Allah bagi putri – putri adam”. Karena makna taat sendiri adalah melaksanakan segala perintah dan meninggalkan larangan. Keadaannya tentu berbeda dengan wanita yang memang tidak mau sholat, baik haidh maupun tidak. Perbedaannya terletak pada niat. Umar Ibnul Khaththab menjelaskan urgensi niat :”amal yang paling utama ialah niat yang bulat untuk meraih apa yang ada disisi Allah

Selanjutnya kita perlu untuk selalu MUHASABAH atau introspeksi diri. Kita dapat mengevaluasi tingkatan ibadah kita setahun terakhir, apa yang kurang dan apa yang perlu diperbaiki. Kita juga perlu untuk merencanakan dan menetapkan target ibadah kita sehingga tidak semrawut tanpa ada rencana. Kehidupan dunia hanyalah sepenggal episode yang amat singkat. Kehidupan yang menentukan nasib perjalanan maha panjang di akhirat yang tak terbatas kurun waktunya. Banyak orang bekerja keras menyiapkan bekal dunia untuk kebahagiaan diri di hari tua yang sangat singkat tetapi adakah yang memikirkan bekal untuk kehidupan yang tidak ada batasnya ?

Orang yang pintar adalah orang yang bermawas diri dan beramal untuk bekal mati

Amalan hati lainnya yang dapat dilakukan adalah MUJAHADAH atau kesungguhan untuk memerangi nafsu karna wanita haidh biasanya dilingkupi oleh atmosfir malas – malasan dan ogah – ogahan. Butuh kesungguhan untuk mengisi waktu dengan segala aktivitas yang selalu bernilai ketaatan dan ibadah. Karena tabiat nafsu itu cenderung kepada yang buruk. Surga bukan hadiah bagi orang yang hanya berleha – leha didunia seperti slogan “kecil dimanja, muda foya foya, tua kaya raya, mati masuk surga”. Bukan. Surga adalah hadiah bagi orang  yang mau berlelah – lelah dan bersusah payah, mau menempuh jalan bertolak belakang dengan kecenderungan hawa nafsunya.

Dan adapun orang – orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya” QS. An-Naziat : 41

Sekian dulu ya, semoga Allah meridhoi dan semoga kelak kita berjumpa di JannahNYA. Aamiin

Dont let this month slip away without setting yourself some goals. Think about forming new good habits and getting rid of bad habits. Lets use this Ramadhan as a way to revitalise ourselves spiritually.

Komentar

Postingan Populer