Satu Frekuensi dalam Film Habibi-Ainun

 (nyomot foto di instagram @habibieainunmovie)

Teman - teman pasti pernah dengar kan ungkapan kalau, kita bisa menikah hanya dengan orang yang satu frekuensi dengan kita. Tapi jujur sebenarnya saya tidak tau, apa yang sebenarnya menjadi indikator atau tolak ukur dari frasa 'satu frekuensi'. Dari visi misi pribadi seseorang? Dari cara pandangnya? Atau apa? Kalau memang benar, sampai sejauh mana kita bisa memahami sudut pandang seseorang terhadap sesuatu? Bagaimana kita tau kita memiliki visi dan misi yang sama? Sebatas kata-kata? Semuanya jujur saja masih terlalu bias bagi saya pribadi.

Saya pernah merasa kalau saya menemukan frasa 'satu frekuensi' dalam diri seseorang. Saya merasa seperti itu karena saya tidak menemukan suatu prinsip yang bertentangan dengannya. Tetapi apakah seperti itu? Apakah sesempit itu dalam memaknai frasa ini?
Dalam kenyataannya memiliki prinsip dan pandangan akan masa depan yang ingin dibangun tidak menyelamatkan sebuah hubungan dari salah paham, konflik bahkan sampai pada titik perpisahan. Ada kepribadian, pengelolaan emosi, pemahaman, manajemen ego dan komiten yang ikut andil.
Lalu, apakah menemukan seseorang yang berada dalam satu frekuensi dengan kita merupakan puncak dari menemukan the right one?
Ada seribu tanya yang yang masih mengendap dalam pikiran, memberontak ingin bersua dengan jawab.
Membicaran tentang topik ini, ada satu film yang terlintas dibenak. Habibie- Ainun.
Seandainya. Seandainya saja saya punya kesempatan untuk belajar langsung dari Eyang Habibie. Dari SMA ikut kuis - kuis Habibie dan lomba, berharap sekali seumur hidup pernah berjumpa dengan beliau. Belum jodoh, beliau sudah dipanggil ke pangkuanNya sebelum cita saya tergapai. Doa terbaik bagi Eyang. Aamiin..
Meskipun begitu, tiga film dokumenter beliau bersama ibu Ainun sudah pasti sangat menginspirasi bagi seluruh negeri. Cinta abadi mereka, lebih lagi kecintaan mereka terhadap Indonesia adalah pembelaran bagi segenap 'anak cucu'nya di negeri ini.
Membahas tentang frasa 'satu frekuensi' saya sangat - sangat tertarik dengan film Habibie-Ainun ini. Bukan hanya kisah cinta antara Habibie dan Ainun tetapi juga kisah masa lalu diantara Rudy (panggilan Eyang Habibi sewaktu muda) dengan Ilona, begitu pula dengan kisah Ainun dengan Ahmad.
Dalam film Habibi Ainun 2, diceritakan kisah cinta Rudy waktu kuliah di Jermah dengan seorang perempuan berkebangsaan Jerman bernama ilona. Sedangkan film Habibi-Ainun 3 menceritakan kisah cinta Ainun sewaktu menuntut pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dengan seorang mahasiswa hukum di universitas yang sama.
Menariknya, kalau saya boleh menyimpulkan, baik Rudy-Ilona maupun Ainun-Ahmad, yang membuat hubungan mereka tidak sampai pernikahan adalah lagi - lagi karena tidak sefrekuensi. Rudy dengan segala kecintaannya terhadap Indonesia sudah pasti siap meninggalkan tawaran karir yang lebih menggiurkan di Jerman (termasuk Ilona) demi kembali ke Indonesia untuk membangun negerinya dan Ilona yang menuntut cinta dan pengorbanan Rudy. Selintas kita yang menonton Film Habibi-Ainun 2 mungkin berfikir, Ilonalah yang bertanggung jawab atas kandasnya hubungan mereka. Kasarnya mereka berpisah karena Ilona tidak mau ikut Rudy kembali ke Indonesia, tapi ada satu kutipan pernyataan Ilona yang membuat saya sangat - sangat tersentil waktu itu "Rudy, saya siap ikut kamu ke Indonesia, saya siap mengikuti agama kamu. Tapi Rudy, apakah cintamu terhadapku (jika dibanding cinta beliau ke Indonesia) sebanding dengan pengorbaan yang akan saya ambil?". Begitulah, dua insan yang akhirnya memilih saling melupa karna gagal menemukan frasa 'satu frekuensi' dalam diri masing-masing.
Tidak jauh berbeda dengan kisan Ainun dan Ahmad. Mereka saling mencintai dan saling mengagumi kecerdaan dan kepribadian masing masing. Tetapi akhirnya mereka tidak bisa bersama, mimpi Ahmad untuk memboyong Ainun meninggalkan Indonesia, berharap potensi mereka bisa lebih berkembang dan dihargai dalam lingkungan yang lebih kondusif mengingat keadaan Indonesia yang waktu itu baru merdeka dengan segala polemik dan belenggu. Sedangkan Ainun dengan segala mimpinya untuk membangun negerinya yang masih 'balita' untuk meraih cita. Mimpi-mimpi hebat mereka belum cukup mampu untuk direkat dengan kata cinta.
Tapi dibalik penemuan frasa 'satu frekuensi', ada kuasa yang diatas segalanya. Takdir-Nya. Allahualam.
Semoga saya dan pembaca segera bertemu dengan partner satu frekuensinya ya. Aamiin..

Komentar

Postingan Populer