Ngebolang : Jeeva Bloam
Mengutip dalam buku The Naked Traveler part 1 : Money is better spent on experiences than on material things.
Jadi anggaran hobi bulan ini dipakai buat liburan dulu. Karena liburannya agak pricey jadi dari awal bulan sudah sangat-sangat menahan diri untuk tidak melakukan 'rutinitas' kewanitaan seperti biasanya. Ngga ada bela beli belo barang ngga penting dulu, ngga ada coba coba skin care dulu. Cuma beli buku tapi belinya yang preloved untuk menghemat anggaran. Duh, bukan pelit ya, cuma berusaha patuh sama rencana keuangan yang dibuat sendiri.
Jadi liburan kali ini bersama grup gjj yang baru kutau artinya adalah grup gak jelas. Selama ini kupikir artinya adalah grup jalan - jalan. Deh. Jadi ini grup pelaksana kantor yang hobi hura-hura alias cari pengalaman kesana kemari dengan bugdet seminim mungkin. Tapi liburan kali ini agak sedikit berbeda, lebih pricey dari biasanya karena atasan kami ikut bersama keluarga. Tidak mungkin mengajak beliau liburan ecek-ecek ala kami, liburan berbekal popmie dan 'membumi'.
Lokasi yang kami pilih untuk menghabiskan liburan kali ini adalah di salah satu villa di kawasan Pantai Pink Lombok. Tepatnya di Desa Sekaroh, Kec. Jerowaru, Lombok Timur. Nama villanya adalah Jeeva Bloam. Bloam sendiri adalah pelesetan dari bahasa sasak bloang yang artinya bolong. Ini adalah villa yang menawarkan view laut dengan pasir putih yang ditengahnya terdapat batu karang beloang. Sudah bukan rahasia ya, pantai - pantai di Lombok itu semuanya indah. Tapi ombak disini lumayan kenceng, apalagi kalau sudah sore, jadi kurang support untuk berenang. Perlu diketahui juga ya, ini adalah private beach yang tidak bisa dimasuki oleh umum. Namun, karena keadaan covid-19 saat ini, villa menjadi sepi pengunjung, yang biasanya selalu full book oleh wisatawan mancanegara, jadinya wisatawan umum diijinkan untuk masuk sekedar untuk foto-foto sebentar ketika tidak ada tamu. Untuk harga inap semalam, teman - teman bisa cek di aplikasi penginapan kalian sendiri ya ehehe..
Jalan menuju lokasi Jeeva Bloam ini sudah sangat bagus, mulus. Pemandangannya? Jangan ditanya. Bagus banget serasa lagi di Jepang, banyak pohon-pohon bagus yang bikin kamu pengin berenti terus di tengah jalan untuk foto-foto ala selebgram hehe. Fasilitas yang ditawarkan villa ini tidak jauh berbeda dengan penginapan pada umumnya, tetapi memang yang menjadi daya tarik tempat ini adalah privasi. Tempat dijaga ketat, pokoknya berasa pantai sendiri. Apalagi bagi wisatawan yang memang sedang ingin istirahat dari rutinitas sehari-hari dan bobroknya dunia sosial media. Disinilah tempat dimana kamu bisa sejanak lepas dari gadgetmu. Tidak ada koneksi internet sama sekali. Dengan fasilitas yang tidak jauh berbeda, ternyata yang membuat tempat ini lebih mahal adalah karena lokasinya yang belum terjangkau listrik dan susah air bersih, sehingga mereka harus membeli air bersih dari daerah lain dan bantuan diesel listrik.
Pesona lain dari Jeeva Bloam adalah sunrise nya yang super cantik. Tapi untuk menikmati keindahan matahari terbit ini kamu harus mendaki bukit dulu ya, tapi tenang ada Mas Mali yang super ramah untuk menemani.
Next moga bisa kesini bersama maliku bukan sama Mas Mali ya ehehehe..
Oh iya, sebagai tamu dari Jeeva Bloam, kamu bisa masuk secara gratis ke Pantai Pink. Katanya sih mereka sudah ada kerjasama gitu. Cuma satu yang saya sayangkan dari tempat ini, sampah. Sebenarnya sama saja dengan permasalahan di kebanyakan pantai - pantai lain di Lombok. Kesadaran masyarakat akan sampah masih sangat kurang. Tetapi karna Jeeva Bloam tidak dibuka untuk umum, kemungkinan sampah yang berserak di sekitar pantai bukan ulah pengunjung tetapi sampah yang dibawa oleh ombak.
Positive thinkingnya karna kondisi covid19 ini juga yang menyebabkan lokasinya tidak diurus semaksimal waktu normalnya.


Wadaw
BalasHapusApaww
BalasHapus