Review Film : Bumi Manusia

 


Bosan banget nonton drama korea dan china. Iseng deh nonton film indonesia. Awalnya bingung mau nonton apa dulu, Milea atau Bumi Manusia (ihiiiy ketauan kan pecinta iqbaal hehe) tapi juga pengen nonton film imperfect sama Teman Tapi Menikah 2. Kenapa film-film ini? Karna biasanya aku emang suka nonton film indonesia yang aku baca novelnya. Suka banding - bandingin gitulah, eiiitsss tapi aku ga suka banding bandingin mantan kok ehehehe..

Udah pokoknya 10/10 lah aku sama film ini. Suka banget. Nilainya subjektif banget mungkin ya sebagai pecinta iqbal dan film berlatar sejarah. Aku hanya pecinta film jadi tidak terlalu berani untuk berkomentar banyak, tidak fahimna gitu. Aku nilai 10 pokoknya karna ambyaar melihat air mata Minke
Ditulisan kali ini mau bahas tentang karakter tokoh utamanya secara subjektif. Lebih tepatnya karakter yang bisa dipelajari. Soon belajar psikologinya ya hehe..
1. Mama aka Nyai Ontosoroh
Karena pengalaman pernah 'ditukar' dengan kedudukan oleh ayahnya dan merasa tidak bisa diperjuangkan oleh ibunya, mama tumbuh menjadi pribadi yang sangat mandiri. Hanya mau bertumpu pada kakinya dan kesadaran untuk tidak menggantungkan diri pada siapapun. Kegagalan orang tuanya dalam hal ini ibunya untuk melindunginya membuat mama bertekad kuat untuk selalu melindungi anak - anaknya. Pada masa itu, mama sudah paham arti kesetaraan. Ada hak - hak dasar yang melekat dalam diri seseorang tanpa memandang siapa dia. Sebagai seorang gundik, mama belajar banyak dari suaminya, Herman Mallema. Belajar membaca, menulis dan mengelola bisnis yang notabenenya tidak dilakukan perempuan pribumi dimasanya, lebih lagi dengan statusnya sebagai seorang Nyai. Kesadaran akan haknya ini pula yang mendorong mama berjuang mempertahankan harta bendanya, segala yang diusahakan di muka pengadilan kulit putih. Menjadi pribumi pertama yang melawan ketidakadilan hak hanya karna perbedaan 'warna kulit'. Saya termasuk pengagum perempuan - perempuan dengan karakter kuat seperti mama. Selalu berani mengambil keputusan dan bertindak tanpa takut diintervensi orang lain kalau memang dirasa dia dalam posisi yang benar. Dan sudah pasti sudah paham dengan segala konsekuensi yang mengikutinya. Perempuan dengan prinsip yang jelas selalu menawarkan pesonanya cantiknya, bagi saya sebagai sesama perempuan.
2. Mingke
Pribumi berawawasan global. Seorang raden, merupakan anak dari seorang bupati tetapi berjiwa sangat bebas. Membenci birokrasi dan pemerintahan. Tidak ingin diperbudak apalagi memperbudak orang. Karekternya cerdas. Tidak jauh berbeda dengan mama, bertindak berdasarkan apa yang dirasa benar, bukan bertindak berdasarkan apa yang biasanya dilakukan. Didikan orang tua mungkin yang memiliki pengaruh sangat signifikan membangun karakter anak. Mingke dibesarkan dalam keluarga yang masih kental dengan adat Jawa. Beruntung sekali Mingke memiliki seorang ibu seperti ibunya, Beliau mendukung segala hal yang ingin dicapai Mingke, mimpinya menghapus garis pemisah diantara pribumi dan kulit putih, tetapi Ibunya pulalah yang selalu membuat Mingke ingat, dia adalah seorang Jawa asli. Wawasan seglobal apapun, dia tetap seorang Jawa, yang harus menjaga Jawa dan tradisi leluhurnya.
3. Annelis Mallema
Selintas karakter Annelis terlihat sangat rapuh dan manja. Sangat manja dan bergantung ke mama. Apalagi saat sudah mengenal Mingke, terkesan Annelis tidak bisa hidup tanpa Mingke. Bahasa sekarangnya mungkin, bucin hehe. Padahal dibalik pembawaannya yang terlihat sangat lembut dari luar, sebenarnya Annelis adalah sosok yang luar biasa. Diusianya yang masih sangat belia suda mampu ikut peran mengelola perusahaan. Sebagai satu - satunya yang bisa membantu mama. Ada luka batin yang teramat dalam yang ditanggungnya diusia semuda itu. Dia dinodai oleh kakak lelakinya sendiri. Kalau Mama dan Mingke diibaratkan api yang selalu berkobar memperjuangkan hak - hak mereka, Annelis saya katakan adalah air yang bisa memadamkan mama dan Mingke. Saya sendiri menyadari ada hal mengagumkan dari karakter Annelis di akhir cerita. Ketika Annelis dipaksa untuk dibawa ke Belanda, dipisahkan dari Mama dan Mingke. Disaat mama dan Mingke berjuang sangat keras memperjuangkannya, Annelis sadar ada hal - hal tertentu yang memang tidak bisa dimenangkan. Dia berani 'menyerah' pada takdir disaat terlampau lelah melihat mama dan Mingke berjuang untuknya

Komentar

Postingan Populer