Kindle Story


 Satu barang yang katanya wajib dimiliki booknerd, Kindle!

Pertama kali tertarik ingin punya, waktu perjalanan libur semester dari Jakarta ke Lombok di majalah maskapai singa grup. Jadi Kindle ini adalah media membaca buku secara digital. Adapun ebook yang bisa dibaca bisa langsung dibeli di amazon melalui akun kindle kita atau juga bisa membeli ebook di google play yang kemudian dipindahkan ke email kindle pengguna atau menggunakan kabel USB dari perangkat komputer kita.

Sudah hobi menumpuk buku sejak di bangku SMP (walaupun lebih sering pinjam di perpustakaan sekolah atau perpustakaan daerah), tapi gila gilaan mengoleksi buku setelah lulus kuliah. Pertama karena sudah punya penghasilan sendiri, dan kedua karena lebih banyak waktu luang. Semasa sekolah memang lebih sibuk membaca buku pelajaran hehe..
Saya suka membaca dan saya suka buku. Itulah kenapa saya selama ini lebih suka membaca buku fisik daripada ebook.

Pikiran untuk mulai membaca ebook adalah karna pertentangan batin yang ingin hidup minimalis ( atau setidaknya hanya mengurangi ketergantungan terhadap barang) dengan keinginan untuk membangun perpusatakaan pribadi. Saya entah kenapa, suka sekali melihat rak buku, buku bertumpuk - tumpuk, kondisi seperti di perpustakaan atau toko buku. Sebulan terakhir saya mulai mengeluarkan barang - barang jarang terpakai seperti pakaian, tas, sepatu, barang-barang mantan *oops, tapi rasanya gak akan pernah tega untuk membuang (atau menyumbangkan) tumpukan buku. Dan perdebatan batin ditengahi oleh debu-debu yang saya temukan di tumpukan buku. Untuk apa menyimpan tumpukan buku kalau sendirinya tidak sanggup merawat (setidaknya dari debu) ? Ada perasaan bersalah juga setiap melihat 'mereka' seolah terlantarkan tak tersentuh lagi. Tapi tidak mungkin juga saya terus-terusan mengulang membaca buku yang sama berulang-ulang. Kecuali ada beberapa buku yang tertentu yang memang butuh untuk dibaca ulang.

Maka solusinya adalah, mulai membaca secara digital. Bisa saja membaca menggunakan smartphone, tetapi ada beberapa hal yang saya hindari. Pertama, radiasi dari layar hp. Seharian di kantor menatap layar komputer, tidak mungkin menyiksa mata lebih jauh lagi di malam hari dengan semalam suntuk 'bermain' gadget. Kedua, saya menghindari distraksi dari notifikasi media sosial saya. Walaupun selama ini saya biasa mematikan notifikasi selama malam hari, tapi setidaknya pasti keinginan untuk membuka media sosial meningkat kalau terus - terusan memegang hp. Misi going offline harus tetap jalan hehe..

Jadi Kindle adalah pilihan yang tepat. Tidak membuat mata lelah dan bebas dari distraksi notifikasi media sosial. Beralih membaca digital bukan berarti saya sama sekali berhenti membaca buku fisik. Ada rasa 'khas' tersendiri yang tidak bisa ditawarkan Kindle dari buku fisik biasa. Apalagi sifat saya yang sangat cenderung berfikir dan berperilaku konservatif. Sekali lagi misi saya adalah tentang 'mengurangi'.
Mengurangi ketergantungan terhadap barang, bukan berarti serta merta menjadi seorang minimalis yang hidup hanya menggunakan 2 setelan baju.
Mengurangi aktivitas di media sosial, bukan berarti benar - benar berhenti memanfaatkan media sosial. Memaanfaatkan media sosial untuk membangun relasi, personal branding, meng-upgrade diri tapi tetap menghargai privasi sendiri.
Mengurangi buku fisik (dan debu-debu yang menyertainya) tapi tetap mencintai rasa yang selalu ditawarkan buku.

Komentar

Postingan Populer