Review Film : Susah Sinyal
waw waw waw..
memang ga pernah kecewa ya sama film - filmnya koh Ernest. komedinya dapat tapi selalu aja ada pembelajaran yang bisa diambil. ketawa dan nangisnya dapatlah ya.
jadi film susah sinyal sendiri udah agak lama ya, tayang 2017 tapi aku baru nonton sekarang hehe.
Film ini menceritakan seorang ibu tunggal (Ellen) yang berprofesi sebagai pengacara sukses dengan anak perempuannya (Kiara). Kiara, adalah anak remaja yang kecanduan bermain sosial media sebagai bentuk protesnya kepada sang ibu yang sangat sibuk bekerja dan merasa kurang meluangkan perhatiannya untuk Kiara. Hal tersebut memicu renggangnya hubungan diantara kedua ibu dan anak. Kiara yang lebih dekat dengan neneknya harus merasakan pahitnya ditinggal sang nenek karena serangan jantung. akibat depresi yang dialami Kiara, 'pemberontakannya' semakin menjadi. karena itu, sang guru dari Kiara menyarankan kepada Ibu Kiara untuk mengajak Kiara liburan dan menikmati quality time bersama. mereka memutuskan untuk liburan ke Sumba, yang mana disana hampir selalu tidak ada sinyal dan listrik. dalam perjalannya, liburan mereka kali ini benar - benar bisa memperbaiki hubungan mereka walaupun pada akhirnya Kiara harus kecewa lagi karena ibunya kembali mengabaikan dia dan memilih pekerjaannya.
di bagian akhir film, sebagai pembelaan dari Ellen atas kecintaannya ke pekerjaannya akhirnya dia bisa jujur dan mencoba berbagi beban kepada Kiara yang selama tidak pernah dilakukan. renggangnya hubungan ibu dan anak ini sebenarnya diawali dari sang ibu yang seolah- olah menjaga jarak dari Kiara setelah perceraiannya dengan Ayah Kiara. Ellen, yang menikah muda dengan Ayah Kiara yang sama - sama muda, gagal mempertahankan rumah tangga mereka karena Ayah Kiara yang belum cukup dewasa untuk bisa hidup dengan satu perempuan. akibat dari sakit hati yang dialami Ellen, kerja adalah yang dia pilih sebagai pelariannya untuk melupakan lukanya. dia yang kemudian terlalu mencintai pekerjaannya menjadi lupa bahwa dia juga memiliki tanggung jawab lain selain kesibukan menyembuhkan lukanya, Kiara.
selama nonton film ini, saya fokus ke karakter Ellen. bukan tanpa alasan ya, perempuan dikasih kemampuan multitasking. perannya sebagai dirinya individu, ibu, istri dan pekerja. Film ini cuma semakin meyakinnya saya sendiri kalau saya belum siap untuk masuk ke dunia pernikahan. peduli apa sama kata orang, udah umur segini tapi masih mikir kayak bocah ? saya sendiri yang tentukan kapan saya merasa sudah benar -benar siap. bukan main -main lho, apalagi untuk orang yang belum tahan banting sama yang namanya perasaan gagal. punya peran ganda layaknya Ellen saya rasa adalah peran yang bisa kamu mainkan ketika kamu sudah benar - benar siap kalau suatu saat kamu mungkin harus berdamai dengan perasaan 'merasa gagal'. bukan berarti saya membayangkan nantinya akan merasa gagal dalam salah satu peran yang akan saya ambil tanggung jawabnya ya. tapi lebih kepada, kamu bisa mengikhlaskan dalam peran - peran sepenting itu, dengan kamu yang hanya manusia biasa dan bukannya wonderwoman, pasti kamu akan mengalami yang namanya dilema. kalau kamu gak cukup siap untuk itu, kamu hanya akan jatuh ke perasaan sendiri, perasaan merasa gagal dan merasa gak maksimal. padahal it's okay. itu benar - benar gak apa - apa. kamu benar - benar boleh merasakan itu.
kedua, belajar dari kesalahan Ellen yang terlalu sibuk dengan lukanya sendiri. Melangkah ke dunia pernikahan saya rasa sebelumnya sebagai individu pribadi kita harus sudah menyelesaikan luka - luka batin kita lebih dulu. orang yang membawa luka ke pernikan dan menghrapkan pasangan untuk membahagiakannya menurut saya adalah sebuah kesalahan. luka yang kita bawa malah akan menciptakan luka lain untuk pasangan atau mungkin anak kelaknya karena kita hanya sibuk dengan luka kita sendiri. dan ekpektasi kita kepada pasangan adalah luka lainnya yang kita ciptakan sendiri untuk diri kita sendiri. jadi, kalau kamu masih belum cukup bisa memanagement lukamu sendiri, tunggu dulu. jangan melangkah keluar dulu. melangkahlah kedalam dirimu sendiri. intinya saya sih masih terlalu egois untuk bisa memulai memprioritaskan selain diri saya sendiri.
ah, gak tau ya. ini hanya opini pribadiku sendiri. setiap orang punya pemikiran sendiri - sendiri. bebas. hidup - hidup kita sendiri. duh, maafkan tulisanku yang sangat berantakan ini. sebenarnya banyak yang mau saya sampaikan tapi bingung mengungkapkannya gimana. mungkin kata - kata saya diatas juga sangat tidak cukup untuk menyampaikan yang sebenarnya pengen saya suarakan. paling enggak semoga pesan yang mau saya sampaikan gak jadi salah makna kalau dibaca :(
menulis itu gak mudah ya, jadi jangan protes kalau harga buku mahal. malah kalau saya rasa, buku puluhan ribu sampai ratusan ribu gak cukup pantas untuk menilai sebuah pemikiran dari seseorang :(
jadi melo gini saya yak hehehe...
mengutip salah satu quotenya Ellen " saya gak butuh lelaki untuk senang, tapi saya butuh lelaki untuk menjadi lengkap" :p
semangayyyyyyyyyyy teman - teman yang juga sedang mengalami quarter life crisis hehe. you're not alone!


Komentar
Posting Komentar