Marhaban Yaa Ramadhan

Alhamdulilillah kita memasuki bulan suci Ramadhan. Setiap orang tentu memiliki cara yang berbeda – beda dalam mempersiapkan bulan penuh berkah ini. Tapi saya rasa harapan semua orang sama, ingin bulan Ramadhan kali ini lebih baik dari tahun – tahun sebelumnya. Kalua saya ingat – ingat, saya selalu merasa ada penyesalan di akhir bulan Ramadhan. “harusnya saya lebih rajin lagi tilawah, shalat sunnah …..” “harusnya saya lebih menjaga lagi nafsu untuk nonton drama korea, tidur, membicarakan orang lain….” “harusnya saya tidak menyia – nyiakan waktu dengan hal – hal tidak berguna…” “harusnya saya lebih banyak berdoa ….” Dan seterusnya. Puji syukur masih diberi kesempatan bertemu dengan Ramadhan kali ini yaa Allah. Makin dewasa kita, semoga makin dewasa juga ya memaknainya.

 Saya ingat waktu saya masih kecil entah sampai usia berapa, saya masih menganggap bulan Ramadhan, lebih tepatnya puasa sebagai ‘beban’. Yang saya pahami sebagai umat muslim, puasa adalah wajib bagi pemeluknya. Puasa adalah menahan makan dan minum dari waktu imsak sampai waktu magrib. Astagfirullah.. 

Sebagaimana kita tau, Allah memerintahkan kita berpuasa, tidak mungkin tidak ada manfaatnya bagi kita. Dari sisi spiritual jelas, sebagai salah satu rukun islam, berpuasa adalah bentuk ibadah kita kepada Allah. Tetapi dari ilmu ‘duniawi’ pun, berpuasa membawa banyak sekali manfaat bagi hidup kita. 

Adapun makna paling mendasar dari berpuasa adalah menahan hawa nafsu. Untuk itu, saya sangat berharap puasa kali ini membawa perbadaan dalam hidup saya. Dari segi niat, tidak ada perdebatan. Ibadah dilakukan semata karena Allah. Bersyukurlah bagi orang – orang yang menyambut dengan Bahagia kedatangan bulan ini. Tidak mengganggapnya sebagai beban tetapi lebih memotivasi diri untuk senantiasa belajar menahan hawa nafsu dan dari kegiatan – kegiatan yang sebenarnya tidak bermanfaat bagi diri kita sendiri. Keadaan menahan lapar dan haus juga semoga bisa dijadikan cerminan diri sehingga kita lebih bisa bersyukur. Kita tau di luar sana banyak sekali saudara kita yang tidak seberuntung kita bisa makan tiga kali sehari setiap harinya. Praktik ini juga sejalan dengan salah satu prinsip dalam buku Filosofi teras. Untuk meningkatkan empati kita, kita dianjurkan untuk mempraktikkan kehidupan yang tidak berkecukupan. Hal ini diharapkan untuk menghindarkan kita dari gaya hidup hedonisme, to live modestly.

 Kata orang, berpuasa juga melatih kita membangun habit yang baik. Akhir akhir ini jadwal tidur saya berantakan. Tidur kemalaman, tidur kesiangan, kurang tidur atau malah kadang kelamaan tidur. Saya sadar itu kebiasaan yang tidak sehat, tapi susah untuk diubah. Saya selalu bilang ke diri sendiri “wake earlier” tapi tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak tidur setelah sholat shubuh. Apalagi Namanya ikut bergabung lagi di 5am Club. Hh.. 

Di bulan Ramadhan ini juga diharapkan kita bisa membangun habit yang lebih baik lagi dari segi makanan. Baik itu segi kuantitas, waktu maupun kualitas. Dari yang saya tau, kebiasaan makan diwaktu yang sama setiap hari dapat menjaga hormon supaya tetap stabil. Kalau puasa kan kita tidak bisa  sembarang makan selain di jam yang perbolehkan. Untuk menjaga tubuh agar tetap sehat selama puasa, harus lebih banyak porsi sayur dan buah *tonjok diri yang susah makan sayur huhu.. Namanya iman itu naik turun. Kalau lagi naik aka ada yang dimau, woah rajinnya ibadah. Sholat sunnahnya tidak pernah bolong. Tapi kalau lagi turun aka sibuk sama duniawi, sholat wajibnya aja berasa hanya jadi ritual melepas kewajiban. Astagfirullah. 

Semoga dengan datangnya bulan Ramadhan ini, bisa mem’boost’ motivasi kita untuk beribadah lebih baik lagi. Dan intinya semoga kebiasan – kebisaan baik selama bulan Ramadhan ini bisa kita bawa ke seharian kita setelahnya. Aamiin..

Komentar

Postingan Populer