IRT VS Berkarir
Paling sering bercanda sama rekan - rekan kerja dikantor terkait arah karir kedepannya. disaat teman yang lain punya ambisi untuk menjadi fungsional atau bahkan pejabat, saya selalu bilang :
"cita - cita saya hanya menikahi sultan dan pensiun dini. hidup untuk suami dan anak - anak."
Kalau memang seharusnya itu yang benar - benar saya harapkan jadi tujuan hidup saya, kenapa rasanya susah untuk melepas karir setelah bertemu dengan laki - laki yang selama ini saya harapkan ?
walaupun sebenarnya saya masih belum tau hidup seperti apa yang paling ideal untuk saya jalani, tapi tanpa saya sadari rasanya apa yang saya bercandakan dengan teman - teman saya murni keluar dari dalam diri saya sendiri.
kenapa saya berfikir kalau saya akan lebih cocok menjadi ibu rumah tangga ?
pertama, saya merasa tidak memiliki ambisi apapun terkait dengan arah karir saya. bukan berarti saya tidak mencintai pekerjaan saya. saya bersyukur dengan lingkungan kerja, pengalaman kerja, relasi (dan tentunya gaji hehehe ) yang pekerjaan saya berikan. hal - hal ini tentunya tidak akan saya dapatkan kalau saya hanya duduk diam di dalam rumah. tapi rasanya dengan kemampuan bekerja saya yang kurang memuaskan ( menurut penilaian saya sendiri ), saya mungkin akan lebih bisa menemukan nilai guna saya di rumah, sebagai istri dan ibu.
kedua, saya tidak terbiasa mengerjakan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. saya harus fokus dalam satu hal untuk mendapatkan hasil yang benar - benar saya ingingkan. walaupun sekarang saya belum menjalani peran itu, saya masih berfikir akan lebih baik untuk merelakan salah satu peran demi mencapai peran yang benar - benar maksimal.
ketiga, masalah anak. saya merasa tidak akan pernah bisa mempercayakan anak saya dididik oleh orang lain bahkan oleh orang tua saya sendiri. bukan berarti saya merasa lebih baik dari orang tua maupun profesional dalam mendidik anak, tapi saya ingin sudut pandang, nilai - nilai, karakter, pendidikan formal anak saya, asupan kasih sayang, mindsetnya tentang segala hal di hidupnya itu adalah seharusnya menjadi tanggung jawab utama saya dan partner nantinya.
tapi sekarang yang akhirnya membuat saya ragu adalah, saya sama sekali belum merasa memiliki kualifikasi yang cukup untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik. sayangnya saya tidak dididik orang tua saya untuk menjadi ibu rumah tangga. saya dididik untuk menjadi perempuan yang mandiri secara financial. saya tidak punya skill seperti memasak, membereskan rumah atau hal - hal lain yang mungkin bisa mengambil hati mertua saya. di titik ini saya baru menyadari bahwa yang saya miliki satu - satunya sampai saat ini adalah pekerjaan saya.
dan ketika saatnya nanti saya harus merelakan itu, apa yang bisa saya tawarkan untuk suami dan mertua sebagai harga diri saya ?
sampai detik ini saya mulai menyadari pentingnya backup plan. kita tidak akan pernah tau kemana takdir membawa kita. sedari kecil saya membayangkan menjadi pelajar yang baik, mengejar nilai supaya dapat pekerjaan bergaji besar. saya tidak pernah memikirkan masa depan selain menjadi pekerja kantoran. sampai saat ini saya merasa tertampar setelah menemui realita. seandainya sedari dulu saya mengembangkan bakat - bakat lain diluar 'belajar'. sendainya saya lebih mempersiapkan diri. seandainya sejak dulu saya belajar memasak, komunikasi, skill berdagang dan interpersonal skill lainnya yang mungkin akan lebih membantu saya dalam menggapai apa yang sebernarnya saya butuhkan sekarang.
tiba - tiba rasanya saya menjadi tong kosong yang tidak memiliki apapun yang perlu dibanggakan dari dalam diri saya. dont worry Ke, tidak ada kata terlambat untuk mulai merangkak menemukan jati diri lagi.
Lalu, bagaimana kalau setelah ini saya akan merasa kehilangan nilai diri ?
yang perlu saya lakukan adalah memulai lagi, mencari lagi...

Komentar
Posting Komentar